Terowningan Ngijo, jalan kereta api bawah tanah yang terbentang dari arah bawat ke arah Timur dan berlokasi : Ujung Barat = Desa Bumiagung dan Ujung Timur : Desa Jatiroto.
Mulut lubang Terowongan Ijo tampak di ujung sana. Bangunan di sebelah kanan adalah Stasiun Ijo dengan sepasang lampu penanda kereta api di depannya. Sebuah corong pengeras suara tampak menempel di atas jendela stasiun. Selain sebagai stasiun persilangan, Stasiun Ijo juga bertugas mengontrol lalu lalang kereta api yang lewat terowongan.
Lokasi Terowongan Ijo berada di wilayah Desa Bumiagung, Kecamatan Rowokele, Kabupaten Kebumen. Terowongan dengan rel tunggal ini dibangun antara 1885-1886 oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api Hindia Belanda ketika itu. Dengan dibuatnya jalur ganda, Terowongan Ijo bakal digantikan oleh terowongan baru di sebelah utaranya.
Sebuah rangkaian kereta tampak baru saja melewati Terowongan Ijo. Hingga sampai tulisan ini dibuat, terowongan yang masuk Daerah Operasi V Purwokerto ini termasuk terowongan yang paling sering dilintasi, yaitu oleh kereta api Argo Wilis, Argo Lawu, Argo Dwipangga, Bengawan, Bima, Bogowonto, Fajar Utama Yogya, Gajah Wong, dan Gajayana.
Juga Kereta Api Gaya Baru Malam, Jaka Tingkir, Kahuripan, Krakatau, Kutojaya Selatan dan Utara, Lodaya, Logawa, Malabar, Mutiara Selatan, Pasundan, Progo, Sawunggalih, Senja Utama Yogya dan Solo, Taksaka, Turangga, serta kereta ketel minyak, dan angkutan semen. Mudah-mudahan saja nanti nasibnya tak terlantar seperti Terowongan Wilhelmina.
Sebuah jembatan kereta yang tak begitu panjang tampak berada beberapa ratus meter sebelum Terowongan Ijo. Setelah jembatan itu ada rel simpang untuk menunggu jika terjadi papasan kereta api dari arah berlawanan. Di belakang sana ada tiga orang pria tengah bekerja seperti membuat tanggul saluran air, sementara anak-anak bermain di atas lereng.
Stasiun Ijo yang berada di dekat terowongan memiliki 3 jalur kereta api. Jalur 1 merupakan jalur utama yang lurus mengarah ke terowongan. Jalur 2 dan jalur 3 digunakan sebagai jalur untuk persilangan kereta api. Lokasi Terowongan Ijo ini cukup strategis, karena berada diantara obyek wisata Gua Jatijajar dan sekitar 9,9 km dari Benteng Van der Wijck Gombong.
Selagi menunggu terowongan jalur ganda selesai dibuat, bisa mulai dipikirkan pemanfaatan Terowongan Ijo agar tidak menjadi terlantar sebagaimana dialami oleh Terowongan Wilhelmina yang rel kereta api-nya pun telah lenyap entah kemana. Eloknya, Terowongan Ijo pernah menjadi lokasi syuting film Kereta Api Terakhir dan Daun di Atas Bantal.


